Diriku bagai pohon kurus berdaun tipis dan jarang
Pohon yang tampak rapuh tapi semangatku melebihi wujudku
Ku ingin memberikan teduh bagi mereka yang membutuhkan kesejukan
Ku berharap daun-daun pemahamanku yang sedang-sedang ini bisa melindungi mereka
Meski tak seberapa tapi kuharap mereka bisa beristirahat dari sengat terik lika-liku kehidupan
Walau kurus namun akar-akar keyakinanku menancap kokoh pada tanah tempatku hidup
Bukan berarti aku kuat dan tiada tanding tiada banding
Aku juga membutuhkan air kasih dan air cinta dari mereka yang lewat
Kadang bukan air kasih maupun cinta malah air celaan yang kotor dan keruh
Tapi air seperti itupun juga membuatku bertahan dan melanjutkan hidup
Kadang mereka yang berteduh marah dan menggoresku
Meninggalkan bekas yang mungkin sampai akhir hayatku akan tetap ada
Ada pula mereka yang kecewa dengan diriku yang rapuh karenanya aku akan dipatahkan
Bahkan ada yang menganggapku jelek dan akan disingkirkan diganti dengan yang lebih kokoh
Tapi disini aku tetap kokoh berdiri dan dengan tanah aku mengakar barulah aku rela dipindah
Kadang aku bingung aku sendiri harus bagaimanakah?
Siapa yang melindungiku dari sengat terik sukarnya hidup?
Aku senang aku tahu bisa membantu orang lain berteduh tapi kemana aku harus berteduh?
Apa yang terjadi jika air yang menghidupiku adalah hujan tangis dan air mata?
Bagaimana jika petir getir kehidupan menyambarku?
Dan bagaimana setelah petir itu menyambar dan api kekacauan membakarku habis?
Karenanya kusimpan buah bernama motivasi diri dalam diriku
Bibit buah itu kecil dan tak tentu wujudnya bahkan kadang konyol adanya
Bibit motivasi itu mungkin refleksi hidupku sendiri dan dari pengalamanku sendiri
Mungkin juga lirik lagu mereka yang berteduh padaku tanpa sadar membentuk bibit itu sendiri
Termasuk makian umpatan kekecewaan dimana membuatku belajar mengatasi rasa kecewa
Dan masih banyak hal lagi dan semuanya merupakan perwujudan apa yang kupelajari
Meski habis terbakar tapi aku akan tumbuh lagi dengan wujud yang berbeda tapi itu tetap aku
Semua bibit itu tak akan menjadi banyak "aku" tapi semuanya hanya menjadi satu "aku"
Aku hidup untuk mereka dan mereka juga ada untuk aku --- itulah yang kuyakini
Kubilang aku meneduhi mereka tapi nyatanya merekalah yang meneduhi aku
Dengan mereka aku tak merasa sendirian dan aku belajar pula dari mereka
Kadang terpikir aku --- aku sering terdiam bagai pohon umumnya
Tapi angin usil ataupun angin penasaran membuat semua daun pemahamanku bergemerisik
Kadang burung atau kelelawar yang hinggap padaku yang menyuarakan lagu kehidupan
Adapun mereka yang berteduh memetik buah motivasiku dan sungguh lucu!
Ada yang berucap motivasiku berasa kecut dan terlalu pesimistis
Beberapa berkata bahwa motivasiku terlalu manis dan muluk-muluk
Dan sejumlah pula berpendapat mereka menerima motivasiku dengan baik serasa pas
Dari semuanya itu aku juga mendapatkan tambahan tenaga kehidupan
Kadang benalu kemalasan menggerogoti diriku
Kadang lumut keserakahan membuatku tampak hijau tapi tak baik
Tapi seiring waktu berjalan benalu malas itu musnah karena aku malas merasa malas
Atau mungkin ada mereka yang membantuku memisahkan benalu itu dari aku
Lumut keserakahan itu kadang juga berguguran setelah aku sendiri merasa makin kekeringan
Atau mungkin ada mereka yang membantu mengerikku agar lepas dari lumut itu
Terima kasih kalian adalah terimakasihku juga sebagai timbal balik
Batinku merasa ganjil --- tak lepas dari kuasaNya, apakah pohon seperti ini memang ada?
The real glory is not about a name, but it is all about acts...
I once was only toying with words, playing with their meanings. But now everything has changed. I should fill this blog with more useful contents ~ Knowledge is Power!
Monday, August 31, 2009
Tuesday, August 18, 2009
Lelah dan Lemah
Ya Tuhan aku lelah...
Semangatku yang tadi utuh tinggal remah-remah....
Ya Gusti aku merasa lemah...
Sayap yang biasa kupakai terbang serasa patah....
Diriku letih dan kurasakan gerah
Kemana kucari cinta sejuk yang bercurah?
Ya Allah ku ingin api jiwaku kembali cerah...
KepadaMu lah aku bersujud berserah
Kering tenagaku diperah...
Diriku makin rindu dicintai makin parah...
Ya Bapa aku sedang berusaha menela'ah
Bagaimana dan dengan apa aku harus melangkah?
Tiada lagi tenaga aku ingin rebah
Apakah aku harus berbaring istirahat di rumah?
Aku menunggu dengan pasrah
Namun tak ingin aku mengaku kalah
Dalam pikiranku "Ingin bangkit" berdengung bagai lebah
Aku pun mencari cara dan mulai memilah
Terbesit kuingin cerdik bagai rubah
Asalkan di tengah lelah ini senyumku bisa kembali merekah
Semangatku yang tadi utuh tinggal remah-remah....
Ya Gusti aku merasa lemah...
Sayap yang biasa kupakai terbang serasa patah....
Diriku letih dan kurasakan gerah
Kemana kucari cinta sejuk yang bercurah?
Ya Allah ku ingin api jiwaku kembali cerah...
KepadaMu lah aku bersujud berserah
Kering tenagaku diperah...
Diriku makin rindu dicintai makin parah...
Ya Bapa aku sedang berusaha menela'ah
Bagaimana dan dengan apa aku harus melangkah?
Tiada lagi tenaga aku ingin rebah
Apakah aku harus berbaring istirahat di rumah?
Aku menunggu dengan pasrah
Namun tak ingin aku mengaku kalah
Dalam pikiranku "Ingin bangkit" berdengung bagai lebah
Aku pun mencari cara dan mulai memilah
Terbesit kuingin cerdik bagai rubah
Asalkan di tengah lelah ini senyumku bisa kembali merekah
Tuesday, March 24, 2009
Belum lengkap
Ingin kudengar suaramu dalam sekejap
Rasa kangenku pun jadilah meluap
Rindu aku melihat matamu mengerjap
Di tatapanmu bisa kulihat bintang gemerlap
Hanya sanjunganmu bisa menerangi jiwaku yang gelap
Terlebih saat kau bangunkan semangatku yang terlelap
Pasti kubuka hatiku yang tadinya kututup tengkurap
Kubuka bahkan sisi kerasku yang tertutup rangkap!
Ah andai saja aku cukup cakap
Kenapa aku kecil bak teri bukannya ikan kakap?
Keraguan membuat tiap langkahku tergagap...
Kapankah aku bisa berhenti kabur dan tiarap?
Saat ini dalam batinku derita melangkah berderap
Bisakah sakit ini enyah bak hilang disulap?
Dalam cinta kasih aku selalu teguh berharap
Harapku semoga cinta membuat hidup kita lengkap!
Rasa kangenku pun jadilah meluap
Rindu aku melihat matamu mengerjap
Di tatapanmu bisa kulihat bintang gemerlap
Hanya sanjunganmu bisa menerangi jiwaku yang gelap
Terlebih saat kau bangunkan semangatku yang terlelap
Pasti kubuka hatiku yang tadinya kututup tengkurap
Kubuka bahkan sisi kerasku yang tertutup rangkap!
Ah andai saja aku cukup cakap
Kenapa aku kecil bak teri bukannya ikan kakap?
Keraguan membuat tiap langkahku tergagap...
Kapankah aku bisa berhenti kabur dan tiarap?
Saat ini dalam batinku derita melangkah berderap
Bisakah sakit ini enyah bak hilang disulap?
Dalam cinta kasih aku selalu teguh berharap
Harapku semoga cinta membuat hidup kita lengkap!
Sunday, March 1, 2009
Irama merdu puisiku sendu...
Hidupku bagai melempar sebuah dadu
Kadang angka yang terlihat begitu padu
Memberikan warna cerita dan pengalaman sendu
Dan kadang pula bagai irama musik nan merdu
Kadang pula muncul angka besar memandu
Aku pun merasa tersanjung meski sebenarnya ditandu
Larilah aku ke gejolak pikiranku penuh rindu
Apa bisa aku tanpa ragu maju bagai teguhnya seorang serdadu?
Rindu itu manis manis bagaikan madu
Terkadang maut pula bagaikan candu
Dalam manisnya candu rindu itu aku tertunduk
Kadang sampai perih hati seolah terkoyak tanduk...
Andai-andai saja gelisahku dapat hilang diseka handuk
Aku pun bingung bagai anak ayam kehilangan induk
Lagi-lagi aku terombang-ambing di lautan keluh nan gaduh
Kucari pulau kasih yang bisa membuatku teduh
Tiada teduh dan kemanapun hanya kutemukan gaduh
Semuanya hanya kembali membuatku merasa sendu
Ah sungguh aku makin merasa rindu
Lebih baik sekali lagi aku melempar dadu
Kadang angka yang terlihat begitu padu
Memberikan warna cerita dan pengalaman sendu
Dan kadang pula bagai irama musik nan merdu
Kadang pula muncul angka besar memandu
Aku pun merasa tersanjung meski sebenarnya ditandu
Larilah aku ke gejolak pikiranku penuh rindu
Apa bisa aku tanpa ragu maju bagai teguhnya seorang serdadu?
Rindu itu manis manis bagaikan madu
Terkadang maut pula bagaikan candu
Dalam manisnya candu rindu itu aku tertunduk
Kadang sampai perih hati seolah terkoyak tanduk...
Andai-andai saja gelisahku dapat hilang diseka handuk
Aku pun bingung bagai anak ayam kehilangan induk
Lagi-lagi aku terombang-ambing di lautan keluh nan gaduh
Kucari pulau kasih yang bisa membuatku teduh
Tiada teduh dan kemanapun hanya kutemukan gaduh
Semuanya hanya kembali membuatku merasa sendu
Ah sungguh aku makin merasa rindu
Lebih baik sekali lagi aku melempar dadu
Monday, February 23, 2009
Roda hidup yang bundar dan berputar...
Hidupku adalah perjalanan besar!
Entah itu bagai melewati pasar,
maupun bagai melalui jalanan kasar,
dan tak jarang berulang kali aku harus berputar....
Terkadang aku takut gemetar,
kadang juga aku maju tanpa gentar!
Saat dalam hidupku bingung kemana harus bersandar,
aku pun gelisah beristirahat sebentar...
Kuhitung roda waktu berputar,
Rutinitas dan peristiwa berulang bagaikan gelinding roda bundar...
Pada titik akhir hiduplah waktu setia mengantar,
kubersyukur hidupku ini tak datar...
Meski terkadang aku merasa terlantar,
Selalu ada sobat yang tulus berulur tangan mengantar...
Sungguh di saat itulah segala rasa kesendirianku pudar!
Dan hangatnya kasih dari hati pun menjalar!
Kubuka semua jalan ke hatiku bagai bandar,
kusediakan jiwaku yang rapuh tapi tulus ini untuk bersandar...
Harapanku demikian dalam seolah tanpa dasar,
doaku semoga kebahagiaan yang bertamu ke jiwa kalian menetap sabar...
Semoga pula nestapa yang mencuri-curi datang segera lari keluar...
Karena kupercaya meski hidup ini sukar,
bagai harus melewati semak belukar...
Jalan hidup kita selalu terang dengan cahaya kasih abadi sebagai latar!
Janganlah sedih saat duka datang menampar!
Tak perlu pula kita tertekan dengan amarah terbakar!
Bersama kita selalu sadar untuk bertahan dan bersabar!
Harapku lagi semoga cinta yang menaungi kita takkan penah pudar!
Entah itu bagai melewati pasar,
maupun bagai melalui jalanan kasar,
dan tak jarang berulang kali aku harus berputar....
Terkadang aku takut gemetar,
kadang juga aku maju tanpa gentar!
Saat dalam hidupku bingung kemana harus bersandar,
aku pun gelisah beristirahat sebentar...
Kuhitung roda waktu berputar,
Rutinitas dan peristiwa berulang bagaikan gelinding roda bundar...
Pada titik akhir hiduplah waktu setia mengantar,
kubersyukur hidupku ini tak datar...
Meski terkadang aku merasa terlantar,
Selalu ada sobat yang tulus berulur tangan mengantar...
Sungguh di saat itulah segala rasa kesendirianku pudar!
Dan hangatnya kasih dari hati pun menjalar!
Kubuka semua jalan ke hatiku bagai bandar,
kusediakan jiwaku yang rapuh tapi tulus ini untuk bersandar...
Harapanku demikian dalam seolah tanpa dasar,
doaku semoga kebahagiaan yang bertamu ke jiwa kalian menetap sabar...
Semoga pula nestapa yang mencuri-curi datang segera lari keluar...
Karena kupercaya meski hidup ini sukar,
bagai harus melewati semak belukar...
Jalan hidup kita selalu terang dengan cahaya kasih abadi sebagai latar!
Janganlah sedih saat duka datang menampar!
Tak perlu pula kita tertekan dengan amarah terbakar!
Bersama kita selalu sadar untuk bertahan dan bersabar!
Harapku lagi semoga cinta yang menaungi kita takkan penah pudar!
Thursday, January 1, 2009
Tahun Baru!
Hari ini aku sungguh terharu...
Rasa hati ini tak mungkin keliru...
Tak mungkin pula kubuat menyaru...
Semangatku kian menjadi-jadi menderu!
Puisiku mungkin bukanlah cerita baru
Dan kata-kataku mungkin berulang dan tiru-meniru...
Tapi sungguh perasaanku tulus bagai lautan dan langit biru...
Kubersiap membajak dalam imajinasiku dengan tanganku bagaikan garu
Segera kutuangkan isi kepalaku terburu-buru!
Kuayunkan jemariku tanpa bagai seorang mahaguru...
Dan aku pun berseru:
Selamat tahun baru!
Rasa hati ini tak mungkin keliru...
Tak mungkin pula kubuat menyaru...
Semangatku kian menjadi-jadi menderu!
Puisiku mungkin bukanlah cerita baru
Dan kata-kataku mungkin berulang dan tiru-meniru...
Tapi sungguh perasaanku tulus bagai lautan dan langit biru...
Kubersiap membajak dalam imajinasiku dengan tanganku bagaikan garu
Segera kutuangkan isi kepalaku terburu-buru!
Kuayunkan jemariku tanpa bagai seorang mahaguru...
Dan aku pun berseru:
Selamat tahun baru!
Sunday, December 28, 2008
Selamat Hari Natal...
Peristiwa yang terjadi banyaknya berbuntal-buntal...
Tiap peristiwa itu kulewati tanpa rasa sesal...
Karenanya ku ingin tidur melepas letih dan kesal...
Satu hari itu kurasa damai nan kental...
Tiada kurasa sesuatu yang fatal,
Tiada pula sesuatu yang brutal,
Aku pun urung meletakkan kepalaku di atas bantal...
Kembali kukenakan lagi sandal...
Hatiku tergerak gatal,
Tanganku ingin menari-nari nakal...
Kembali ku menyentuh alat ketikku yang sintal,
Dan hanya kata-kata yang dapat kupintal...
Ku berucap Selamat Hari Natal!
Tiap peristiwa itu kulewati tanpa rasa sesal...
Karenanya ku ingin tidur melepas letih dan kesal...
Satu hari itu kurasa damai nan kental...
Tiada kurasa sesuatu yang fatal,
Tiada pula sesuatu yang brutal,
Aku pun urung meletakkan kepalaku di atas bantal...
Kembali kukenakan lagi sandal...
Hatiku tergerak gatal,
Tanganku ingin menari-nari nakal...
Kembali ku menyentuh alat ketikku yang sintal,
Dan hanya kata-kata yang dapat kupintal...
Ku berucap Selamat Hari Natal!
Subscribe to:
Posts (Atom)