Peristiwa yang terjadi banyaknya berbuntal-buntal...
Tiap peristiwa itu kulewati tanpa rasa sesal...
Karenanya ku ingin tidur melepas letih dan kesal...
Satu hari itu kurasa damai nan kental...
Tiada kurasa sesuatu yang fatal,
Tiada pula sesuatu yang brutal,
Aku pun urung meletakkan kepalaku di atas bantal...
Kembali kukenakan lagi sandal...
Hatiku tergerak gatal,
Tanganku ingin menari-nari nakal...
Kembali ku menyentuh alat ketikku yang sintal,
Dan hanya kata-kata yang dapat kupintal...
Ku berucap Selamat Hari Natal!
I once was only toying with words, playing with their meanings. But now everything has changed. I should fill this blog with more useful contents ~ Knowledge is Power!
Sunday, December 28, 2008
Saturday, December 20, 2008
Kata!
Di suatu berita
Diungkapkan sebuah cerita...
Tentang seorang pendeta
Yang mengutuk keberadaan senjata...
Disaksikan semua rakyat jelata,
Bahkan juga binatang melata...
Manusia punya kata-kata
Apakah itu juga bukan senjata?
Kalau kaki ibarat roda kereta,
Maka mulut ibarat senjata...
Karena dari mulut keluar kata-kata,
Dan dari kata-kata orang bisa menderita...
Meski kata-kata sukacita,
Tapi selalu ada seni membuatnya tertata...
Tidak semudah menyusun batu bata,
Dan tidak semuanya dapat dipukul rata...
Ah kata-kata...
Apakah itu senjata?
Ataukah itu harta?
Jangan-jangan harta yang berbentuk senjata?
Semuanya juga berkaitan dengan sengketa...
Meski tiada orang yang meminta,
Kenapa selalu ada kebusukan ikut serta?
Sungguh variasi hidup ini berjuta-juta...
Ada begitu banyak cerita,
Penuh dengan tindakan maya dan nyata...
Tercatat dengan goresan tinta...
Disaksikan sejumlah saksi mata...
Semua masuk dalam berita...
Orang pintar bilang itulah data...
Yang ingin diketahui orang-orang kota...
Lagi-lagi semuanya menggunakan kata-kata...
Diungkapkan sebuah cerita...
Tentang seorang pendeta
Yang mengutuk keberadaan senjata...
Disaksikan semua rakyat jelata,
Bahkan juga binatang melata...
Manusia punya kata-kata
Apakah itu juga bukan senjata?
Kalau kaki ibarat roda kereta,
Maka mulut ibarat senjata...
Karena dari mulut keluar kata-kata,
Dan dari kata-kata orang bisa menderita...
Meski kata-kata sukacita,
Tapi selalu ada seni membuatnya tertata...
Tidak semudah menyusun batu bata,
Dan tidak semuanya dapat dipukul rata...
Ah kata-kata...
Apakah itu senjata?
Ataukah itu harta?
Jangan-jangan harta yang berbentuk senjata?
Semuanya juga berkaitan dengan sengketa...
Meski tiada orang yang meminta,
Kenapa selalu ada kebusukan ikut serta?
Sungguh variasi hidup ini berjuta-juta...
Ada begitu banyak cerita,
Penuh dengan tindakan maya dan nyata...
Tercatat dengan goresan tinta...
Disaksikan sejumlah saksi mata...
Semua masuk dalam berita...
Orang pintar bilang itulah data...
Yang ingin diketahui orang-orang kota...
Lagi-lagi semuanya menggunakan kata-kata...
Friday, December 19, 2008
Hebat!
Gelap dan kelam muncul sekelebat,
Lubang nestapa siapa yang dapat menyumbat?
Sumpah serapah pun terlintas terlibat,
Karenanya kugunakan untuk menghujat!
Kututup diriku dengan rapat,
Ternyata pedih membuatku makin terjerat...
Jadilah aku makin merasa penat,
Tidak bisakah aku kabur secepat kilat?
Apa pikiran jelek memang bejat?
Jiwaku perlahan menjadi melarat...
Semangatku menjadi renta berkarat,
Kemana aku dapat beristirahat?
Nyawaku seolah sedang sekarat...
Dan paniklah aku mencari selamat...
Berpikir aku dengan kening terlipat...
Bisakah aku disembuhkan cepat?
Pencerahan datang bak air bersemburat!
Penghiburan datang bagai perban membebat!
Rasa tenang perlahan menjalar merambat!
Ternyata telah datang penyelamat!
Bagai perahu yang telah lepas tambat,
Tiada tali halangan yang jadi penghambat!
Mungkin penyelamat berjalan dengan lambat,
Meski demikian dia tak pernah terlambat!
Munafiknya aku ini bak penjahat,
Serasa lebih rendah dari penjilat...
Harusnya aku bertobat,
Kenapa hanya kutunggu dia saat aku terhambat?
Untungnya dia datang di saat tepat,
Rasa lega ini tiba-tiba melompat...
Berterima kasih aku untuk penyelamat,
Karena dia sungguh hebat!
Lubang nestapa siapa yang dapat menyumbat?
Sumpah serapah pun terlintas terlibat,
Karenanya kugunakan untuk menghujat!
Kututup diriku dengan rapat,
Ternyata pedih membuatku makin terjerat...
Jadilah aku makin merasa penat,
Tidak bisakah aku kabur secepat kilat?
Apa pikiran jelek memang bejat?
Jiwaku perlahan menjadi melarat...
Semangatku menjadi renta berkarat,
Kemana aku dapat beristirahat?
Nyawaku seolah sedang sekarat...
Dan paniklah aku mencari selamat...
Berpikir aku dengan kening terlipat...
Bisakah aku disembuhkan cepat?
Pencerahan datang bak air bersemburat!
Penghiburan datang bagai perban membebat!
Rasa tenang perlahan menjalar merambat!
Ternyata telah datang penyelamat!
Bagai perahu yang telah lepas tambat,
Tiada tali halangan yang jadi penghambat!
Mungkin penyelamat berjalan dengan lambat,
Meski demikian dia tak pernah terlambat!
Munafiknya aku ini bak penjahat,
Serasa lebih rendah dari penjilat...
Harusnya aku bertobat,
Kenapa hanya kutunggu dia saat aku terhambat?
Untungnya dia datang di saat tepat,
Rasa lega ini tiba-tiba melompat...
Berterima kasih aku untuk penyelamat,
Karena dia sungguh hebat!
Terasing dan menderita
Hari ini aku terasing...
Pikiranku berputar bak gasing...
Bibirku terasa amat kering...
Kenapa terjadi demikian sering?
Di saat yang lain bersukacita...
Kenapa aku malah menderita?
Padahal aku tiada sengketa...
Bisakah ku jadi rakyat jelata?
Waktu membuatku kacau,
Membuat hatiku kemelut galau...
Kuingin duduk di tepi danau,
Termenung dan bernyanyi sengau...
Kuingin banyak bercerita,
Tapi tiada pendengar yang nyata...
Bagai bencana karena senjata,
Semuanya terasa penuh dusta...
Merintih aku sakit,
Kesadaranku serasa sedikit...
Sejumlah kata pun kurakit,
Semua pedih akhirnya kuuungkit...
Berpikir aku dengan jeli,
Ku berhenti sedih sesekali...
Bibir ini tersungging geli,
Bahagia kenapa tak dapat dibeli?
Pikiranku bak diracun setan!
Enyah saja kau dari daratan!
Tenggelam saja kau di lautan!
Jangan engkau jadi hambatan!
Hidup berputar bagai roda,
Bahagia apakah tak bertanda?
Sedih dapatkah dianggap denda?
Saat ini kurasakan banyak jeda...
Dinginnya sedih tusuk menembus,
Kebusukan ini ingin kurebus...
Agar segenap napasku berhembus,
Menjadi riang dan ringan bak gabus...
Kapal imajinasiku terapung...
Lautan pikiranku terbang bak capung...
Semuanya mendadak memutih bak tepung...
Bisakah piciknya rasa ini aku kepung?
Pikiranku berputar bak gasing...
Bibirku terasa amat kering...
Kenapa terjadi demikian sering?
Di saat yang lain bersukacita...
Kenapa aku malah menderita?
Padahal aku tiada sengketa...
Bisakah ku jadi rakyat jelata?
Waktu membuatku kacau,
Membuat hatiku kemelut galau...
Kuingin duduk di tepi danau,
Termenung dan bernyanyi sengau...
Kuingin banyak bercerita,
Tapi tiada pendengar yang nyata...
Bagai bencana karena senjata,
Semuanya terasa penuh dusta...
Merintih aku sakit,
Kesadaranku serasa sedikit...
Sejumlah kata pun kurakit,
Semua pedih akhirnya kuuungkit...
Berpikir aku dengan jeli,
Ku berhenti sedih sesekali...
Bibir ini tersungging geli,
Bahagia kenapa tak dapat dibeli?
Pikiranku bak diracun setan!
Enyah saja kau dari daratan!
Tenggelam saja kau di lautan!
Jangan engkau jadi hambatan!
Hidup berputar bagai roda,
Bahagia apakah tak bertanda?
Sedih dapatkah dianggap denda?
Saat ini kurasakan banyak jeda...
Dinginnya sedih tusuk menembus,
Kebusukan ini ingin kurebus...
Agar segenap napasku berhembus,
Menjadi riang dan ringan bak gabus...
Kapal imajinasiku terapung...
Lautan pikiranku terbang bak capung...
Semuanya mendadak memutih bak tepung...
Bisakah piciknya rasa ini aku kepung?
Sunday, December 14, 2008
Kata yang diakhiri akhiran -us
Ini beberapa plesetan untuk kata2 dlm bhs Indonesia yang ada akhiran "us" nya
Kata dan Pengertiannya yang benar (secara sederhana)
Orang yang:
Religius --> orang yang berreligi-religi, orang yang memiliki pengetahuan tentang religi, atau orang yang mendalami suatu religi, melakukan sesuatu yang berkenaan dengan religinya
Ambisius --> orang yang berambisi-ambisi, orang yang ambisinya banyak dan melakukan segala cara untuk memenuhi ambisinya
Misterius --> orang yang bermisteri-misteri, orang yang segala sesuatu yang berkenaan dengan orang tersebut adalah misteri
Musikus --> orang yang bermusik-musik, orang yang cakap memainkan alat musik, orang yang memiliki kecakapan dalam hal musik
Kata dan Pengertiannya yang 'plesetan'
Orang yang:
Serius --> orang yang sebenarnya berseri-seri tapi malu menunjukkannya. Bisa juga diartikan orang yang senang dengan sesuatu yang strukturnya seri, bukan paralel, kecuali susunan paralel tersebut disusun seri atau sebaliknya, atau dapat juga diartikan sebagai orang yang senang sekali kalau suatu pertandingan berakhir seri
Rakus --> orang yang ngabisin ato ngambil sesuatu biasanya sampai berrak-rak (rak buku, rak porselen, dkk dll)
Jenius --> orang yang berjeni-jeni (jeni --> lafal dalam bhs Indonesia untuk nama wanita: Jenny, Jeanny, dan sejenisnya. Kebetulan, sang penulis mengenal orang dengan nama demikian dan rata2 pemilik nama tersebut memang pintar menurut penilaian sang penulis), orang yang dalam pikirannya ada jeni (arti yang sama, lafal nama dlm bhs Indonesia) nah looo...???
Kata dan Pengertiannya yang benar (secara sederhana)
Orang yang:
Religius --> orang yang berreligi-religi, orang yang memiliki pengetahuan tentang religi, atau orang yang mendalami suatu religi, melakukan sesuatu yang berkenaan dengan religinya
Ambisius --> orang yang berambisi-ambisi, orang yang ambisinya banyak dan melakukan segala cara untuk memenuhi ambisinya
Misterius --> orang yang bermisteri-misteri, orang yang segala sesuatu yang berkenaan dengan orang tersebut adalah misteri
Musikus --> orang yang bermusik-musik, orang yang cakap memainkan alat musik, orang yang memiliki kecakapan dalam hal musik
Kata dan Pengertiannya yang 'plesetan'
Orang yang:
Serius --> orang yang sebenarnya berseri-seri tapi malu menunjukkannya. Bisa juga diartikan orang yang senang dengan sesuatu yang strukturnya seri, bukan paralel, kecuali susunan paralel tersebut disusun seri atau sebaliknya, atau dapat juga diartikan sebagai orang yang senang sekali kalau suatu pertandingan berakhir seri
Rakus --> orang yang ngabisin ato ngambil sesuatu biasanya sampai berrak-rak (rak buku, rak porselen, dkk dll)
Jenius --> orang yang berjeni-jeni (jeni --> lafal dalam bhs Indonesia untuk nama wanita: Jenny, Jeanny, dan sejenisnya. Kebetulan, sang penulis mengenal orang dengan nama demikian dan rata2 pemilik nama tersebut memang pintar menurut penilaian sang penulis), orang yang dalam pikirannya ada jeni (arti yang sama, lafal nama dlm bhs Indonesia) nah looo...???
Hanya seorang yang awam
Hari ini dalam pikiranku aku terbenam
Makin lama aku terbenam makin dalam
Sampai akhirnya kulihat semuanya hitam
Dan mulailah aku bergumam:
"Di dunia ini seringkali aku menatap langit,
Aku berpikir kenapa aku terkadang merasa jiwaku sedang sakit?"
Kucari jawaban di awan-awan yang tengah berkelit...
Dan bingunglah aku makin sengit!
Terkadang aku tertunduk melihat daratan tempat aku berpijak,
Dan pikiran yang sama kembali melonjak
Kutelusuri begitu banyak kerikil dan jejak-jejak...
Dan lagi-lagi yang kudapat hanya teka-teki yang makin menanjak!
Pada akhirnya aku kembali terpejam
Memikirkan kenapa sakit yang membakar jiwa ini membuatku merasa kelam?
Apakah terhadap sakit yang terkadang datang ini aku harus merasa dendam?
Dengan tenang aku berusaha perlahan kembali menyelam...
Satu esensi yang sederhana tapi terlihat benar akhirnya berhasil aku dapat!
Dari sakit dan nestapa yang singgah lalu lewat ini bisa kudapatkan khasiat!
Jikalau berhasil kuobati sakit itu maka bunga-bunga jiwaku mekarlah nan kuat
Lalu cepat kuakhiri pikiranku ini dan setelah itu betapa aku senang dan teriakku dashyat:
"Badai sudah lewat!
Mendung yang tadinya menggantung erat
Akhirnya melepaskan hujan yang begitu panjang dan lebat
Usai itu menyeruaklah kembali surya yang hangat!"
Maka bangkitlah aku dari diriku yang tepejam
Sungguh senang dan saat ini tak ingin lagi aku menyelam
Berhenti aku merasa bijak dan aku bergumam: "Awam!"
Setelah berucap itu aku terdiam
"Yang tadinya terbenam kini kembali awam"
Makin lama aku terbenam makin dalam
Sampai akhirnya kulihat semuanya hitam
Dan mulailah aku bergumam:
"Di dunia ini seringkali aku menatap langit,
Aku berpikir kenapa aku terkadang merasa jiwaku sedang sakit?"
Kucari jawaban di awan-awan yang tengah berkelit...
Dan bingunglah aku makin sengit!
Terkadang aku tertunduk melihat daratan tempat aku berpijak,
Dan pikiran yang sama kembali melonjak
Kutelusuri begitu banyak kerikil dan jejak-jejak...
Dan lagi-lagi yang kudapat hanya teka-teki yang makin menanjak!
Pada akhirnya aku kembali terpejam
Memikirkan kenapa sakit yang membakar jiwa ini membuatku merasa kelam?
Apakah terhadap sakit yang terkadang datang ini aku harus merasa dendam?
Dengan tenang aku berusaha perlahan kembali menyelam...
Satu esensi yang sederhana tapi terlihat benar akhirnya berhasil aku dapat!
Dari sakit dan nestapa yang singgah lalu lewat ini bisa kudapatkan khasiat!
Jikalau berhasil kuobati sakit itu maka bunga-bunga jiwaku mekarlah nan kuat
Lalu cepat kuakhiri pikiranku ini dan setelah itu betapa aku senang dan teriakku dashyat:
"Badai sudah lewat!
Mendung yang tadinya menggantung erat
Akhirnya melepaskan hujan yang begitu panjang dan lebat
Usai itu menyeruaklah kembali surya yang hangat!"
Maka bangkitlah aku dari diriku yang tepejam
Sungguh senang dan saat ini tak ingin lagi aku menyelam
Berhenti aku merasa bijak dan aku bergumam: "Awam!"
Setelah berucap itu aku terdiam
"Yang tadinya terbenam kini kembali awam"
Nasib kecut si pengecut
Tiada tempat untuk pengecut,
di dunia yang penuh kemelut....
Masalah tak terhingga tersulut,
Makin banyak dan jelaslah keriput....
Apakah menata sesuatu menjadi urut,
Perlu sampai berlarut-larut?
Bagai seekor siput,
Hilang rumah lantas ribut?
Sedih datang menyambut,
Bahagia siapa yang merebut?
Bukan sukacita yang gendut,
Tapi putihlah rambut....
Perlahan-lahan muncul takut,
Apa jantung ini masih berdenyut?
Kenapa nikmat hidup tak berlanjut,
Bagaikan minum es serut?
Larilah kencang-kencang pengecut!
Dan licinlah bagai belut!
Saat alis terasa berkedut,
Kaburlah sebagai badut!
Selamanya dikau jadi pengecut!
Kecuali ketakutanmu kau parut!
Kalau keberanianmu yang dikau parut,
Nasibmu makinlah kecut!
di dunia yang penuh kemelut....
Masalah tak terhingga tersulut,
Makin banyak dan jelaslah keriput....
Apakah menata sesuatu menjadi urut,
Perlu sampai berlarut-larut?
Bagai seekor siput,
Hilang rumah lantas ribut?
Sedih datang menyambut,
Bahagia siapa yang merebut?
Bukan sukacita yang gendut,
Tapi putihlah rambut....
Perlahan-lahan muncul takut,
Apa jantung ini masih berdenyut?
Kenapa nikmat hidup tak berlanjut,
Bagaikan minum es serut?
Larilah kencang-kencang pengecut!
Dan licinlah bagai belut!
Saat alis terasa berkedut,
Kaburlah sebagai badut!
Selamanya dikau jadi pengecut!
Kecuali ketakutanmu kau parut!
Kalau keberanianmu yang dikau parut,
Nasibmu makinlah kecut!
Dua suara
Hari ini diriku merasa amat sangat senang!
Dari dalam hati menjalar perasaan hangat nan riang!
Semangatku bergelora merasuk pikiranku nan cemerlang!
Tiap sendi dan sel tubuhku seolah hendak memekik girang!
Satu suara lantang terdengar, "Luapkan segalanya tanpa perlu malu!"
Suara kedua berbisik tajam, "Jangan sampai kau lupa diri!"
Disangkal demikian, terdengar lagi suara lantang, "Bukan saatnya merasa ngilu!"
Makin kecil bisikan, namun kian tajam terdengar, "Bukan ngilu yang kutakutkan, tapi rasa suka berlebihan ini terdengar ngeri!"
Pada saat itulah, perasaan aneh berganti datang...
Sama seperti dikala sedih datang ikut menyumbang...
Sendu membuatku merasakan dingin yang tidak biasa mulai menyerang...
Rasa perih bagai racun mematikan mengalir di darah membuatku sakit terkekang...
Satu suara lirih terdengar, "Haruskah aku merasa sedih saat aku merasa begini hidup?"
Suara kedua hangat menenangkan "Hanya mengingatkan jangan sampai kau hanyut menggebu!"
Disangkal demikian, makin lirih terdengar suara, "Lalu harus bagaimanakah aku?"
Makin hangat dan teduh suatu suara terdengar, "Bukan ledakan yang kau inginkan, hanya aliran jernih yang kau tunggu..."
Kembali ke dalam pikiranku yang dangkal tapi terbuka...
Aku tahu aku mampu berbuat kurang atau lebih tapi aku sendiri memilih tengah...
Aku tahu saat itu apapun langkah yang aku ambil tiada menang maupun kalah...
Pada saat aku berpikir amat jernih, aku berada di poros yang terporos dari dunia yang kuciptakan...
Dan pada saat itulah,aku bahkan melebihi keyakinan dan jalan yang kupilih secara utuh!
Pada saat itulah, aku merasa bagai angin semilir ringan, namun dapat menyayat sebuah batu!
Berada di tengah duniaku, dua suara bertentangan terdengar bagai melodi menyatu!
Bagaikan nirwana yang selama ini hanya ada dalam khayalku, bahkan aku memiliki raja dan ratu!
Setiap kesempatan setiap waktu aku asyik berdebat!
Setiap perkataan dan ide yang muncul semuanya terasa begitu hebat!
Luar biasa anugerah hati pikiran dan jasmani yang Tuhan buat!
Tak heran cukup dengan satu orang bisa saja membuat semuanya tak pernah tamat!
Dari dalam hati menjalar perasaan hangat nan riang!
Semangatku bergelora merasuk pikiranku nan cemerlang!
Tiap sendi dan sel tubuhku seolah hendak memekik girang!
Satu suara lantang terdengar, "Luapkan segalanya tanpa perlu malu!"
Suara kedua berbisik tajam, "Jangan sampai kau lupa diri!"
Disangkal demikian, terdengar lagi suara lantang, "Bukan saatnya merasa ngilu!"
Makin kecil bisikan, namun kian tajam terdengar, "Bukan ngilu yang kutakutkan, tapi rasa suka berlebihan ini terdengar ngeri!"
Pada saat itulah, perasaan aneh berganti datang...
Sama seperti dikala sedih datang ikut menyumbang...
Sendu membuatku merasakan dingin yang tidak biasa mulai menyerang...
Rasa perih bagai racun mematikan mengalir di darah membuatku sakit terkekang...
Satu suara lirih terdengar, "Haruskah aku merasa sedih saat aku merasa begini hidup?"
Suara kedua hangat menenangkan "Hanya mengingatkan jangan sampai kau hanyut menggebu!"
Disangkal demikian, makin lirih terdengar suara, "Lalu harus bagaimanakah aku?"
Makin hangat dan teduh suatu suara terdengar, "Bukan ledakan yang kau inginkan, hanya aliran jernih yang kau tunggu..."
Kembali ke dalam pikiranku yang dangkal tapi terbuka...
Aku tahu aku mampu berbuat kurang atau lebih tapi aku sendiri memilih tengah...
Aku tahu saat itu apapun langkah yang aku ambil tiada menang maupun kalah...
Pada saat aku berpikir amat jernih, aku berada di poros yang terporos dari dunia yang kuciptakan...
Dan pada saat itulah,aku bahkan melebihi keyakinan dan jalan yang kupilih secara utuh!
Pada saat itulah, aku merasa bagai angin semilir ringan, namun dapat menyayat sebuah batu!
Berada di tengah duniaku, dua suara bertentangan terdengar bagai melodi menyatu!
Bagaikan nirwana yang selama ini hanya ada dalam khayalku, bahkan aku memiliki raja dan ratu!
Setiap kesempatan setiap waktu aku asyik berdebat!
Setiap perkataan dan ide yang muncul semuanya terasa begitu hebat!
Luar biasa anugerah hati pikiran dan jasmani yang Tuhan buat!
Tak heran cukup dengan satu orang bisa saja membuat semuanya tak pernah tamat!
Awal dan akhir...
Hari ini anganku kembali bergelora...
Entah kenapa hari ini kembali rasa aneh mendera...
Dan jadilah aku menulis kembali kata-kataku yang membara...
Sehingga aku pun heran betapa hari ini kebahagiaanku makin kentara...
Kali ini karya tulisku bagaikan mendendangkan lagu,
Bagai teringat di tanah airku betapa manisnya rasa sagu...
Kesempatan datang dan aku ambil tanpa ragu,
Hasil jelek haruskah aku lemas menyandarkan dagu?
Yang ingin kurasakan bukan rasa sedih murung belaka
Maka aku berusaha bangkit dan bersenandung jenaka:
"Hari ini aku melihat sesuatu yang aku anggap sebagai celaka,
Tapi apalah artinya celaka itu untuk lebih maju selangkah?"
Seiring datangnya angin kencang yang menderu
Kulihat ke atas menatap jelas betapa luasnya langit biru!
Meski esok akan kurasakan dingin yang membeku
Tapi aku yakin semangat akan selalu memberi kehangatan bagiku!
Satu - dua - tiga mulailah aku berhitung...
Satu irama dengan alaminya detak jantung,
Dua pilihan yang kupertimbangkan bertentangan terselubung...
Tiga hal "pikiran - tubuh - jiwa" ku semuanya terhubung
Baik buruk telah aku timbang
Kadang pilihanku demikian cantik bagai kembang...
Tapi tak jarang pula pilihanku bagai nyanyian sumbang!
Dan semuanya itu mengarah pada satu hal nan seimbang...
Kukenal dua hal yang bertautan...
Awal dan akhir yang saling bersahut-sahutan
Seperti kelahiran dan kematian yang kadang saling menyelamatkan...
Apalagi sukacita perjumpaan atau perpisahan yang menyakitkan?
Dalam kesemuanya itu ada satu penghubung
Awal adalah akhir dari suatu awal pendahulunya
Akhir adalah awal dari suatu akhir pendahulunya
Apakah ini membuat diriku mulai bingung?
Antara dua hal lahir dan mati
Yang mana sedih yang mana senang?
Kematian adalah tahap dari kelahiran kehidupan yang akan datang
Demikian pula kelahiran adalah tahap dari kematian yang tak dapat dihindari
Antara dua hal berjumpa dan berpisah,
Apakah berjumpa adalah hal yang terindah?
Ataukah berpisah adalah hal yang membuat hati gundah?
Berjumpa kembali setelah berpisah, itulah yang membuat kita makin bergairah!
Entah kenapa hari ini kembali rasa aneh mendera...
Dan jadilah aku menulis kembali kata-kataku yang membara...
Sehingga aku pun heran betapa hari ini kebahagiaanku makin kentara...
Kali ini karya tulisku bagaikan mendendangkan lagu,
Bagai teringat di tanah airku betapa manisnya rasa sagu...
Kesempatan datang dan aku ambil tanpa ragu,
Hasil jelek haruskah aku lemas menyandarkan dagu?
Yang ingin kurasakan bukan rasa sedih murung belaka
Maka aku berusaha bangkit dan bersenandung jenaka:
"Hari ini aku melihat sesuatu yang aku anggap sebagai celaka,
Tapi apalah artinya celaka itu untuk lebih maju selangkah?"
Seiring datangnya angin kencang yang menderu
Kulihat ke atas menatap jelas betapa luasnya langit biru!
Meski esok akan kurasakan dingin yang membeku
Tapi aku yakin semangat akan selalu memberi kehangatan bagiku!
Satu - dua - tiga mulailah aku berhitung...
Satu irama dengan alaminya detak jantung,
Dua pilihan yang kupertimbangkan bertentangan terselubung...
Tiga hal "pikiran - tubuh - jiwa" ku semuanya terhubung
Baik buruk telah aku timbang
Kadang pilihanku demikian cantik bagai kembang...
Tapi tak jarang pula pilihanku bagai nyanyian sumbang!
Dan semuanya itu mengarah pada satu hal nan seimbang...
Kukenal dua hal yang bertautan...
Awal dan akhir yang saling bersahut-sahutan
Seperti kelahiran dan kematian yang kadang saling menyelamatkan...
Apalagi sukacita perjumpaan atau perpisahan yang menyakitkan?
Dalam kesemuanya itu ada satu penghubung
Awal adalah akhir dari suatu awal pendahulunya
Akhir adalah awal dari suatu akhir pendahulunya
Apakah ini membuat diriku mulai bingung?
Antara dua hal lahir dan mati
Yang mana sedih yang mana senang?
Kematian adalah tahap dari kelahiran kehidupan yang akan datang
Demikian pula kelahiran adalah tahap dari kematian yang tak dapat dihindari
Antara dua hal berjumpa dan berpisah,
Apakah berjumpa adalah hal yang terindah?
Ataukah berpisah adalah hal yang membuat hati gundah?
Berjumpa kembali setelah berpisah, itulah yang membuat kita makin bergairah!
Terhukum...
Saat aku merasa ada yang melirik aku sedih,
Jadilah aku ikut merasa sendu dan pedih...
Jiwaku demikian cepatnya menjadi letih,
Pandanganku berangsur menghitam dari yang tadinya putih....
Duduk sendiri aku tertegun,
Seolah tiada orang dapat membuatku bangun...
Aku terjebak dalam pikiranku yang ternyata begitu anggun,
Padahal tadinya aku berpikir kebahagiaanku bagai diambil penyamun...
Bagaikan merawat sepetak kecil kebun anggur,
Apakah tidak senang hati bila kebunmu subur?
Jangan biarkan sedih membuatmu hancur,
Apa baiknya kesedihan bila hanya membuatmu makin lebur?
Banyak hal di dunia membuat kita merasa terhukum,
Obatnya adalah pengampunan diri yang seolah seperti serum...
Banyak teman datang berempati bagai tanaman yang alum,
Kesedihan terasa bagai permen kecut yang terpaksa kita kulum...
Mulailah tersenyum pada dunia yang perlu banyak tawa,
Terimalah kejadian buruk yang terjadi dengan hati legawa...
Tak perlu malu melepaskan kesedihanmu bak sendawa,
Yang jelas buatlah hidupmu kembali bernyawa!
Menuju yang kau salahi kau harus berhadap!
Mintalah maaf dan kau akan mendekati ampunan yang kau harap!
Pengampunan diri akan membuatmu makin genap!
Biarkan rasa sakit itu jadi pengalaman penting yang larut mengendap!
Yang tadinya gelap upayakanlah jadi terang!
Jangan takut setelah jatuh kau bangkit menyerang!
Adalah wajar saat dihukum dan terluka kita mengerang...
Tapi bisa bangkit setelah kita terluka parah itulah sang pemenang!
Jadilah aku ikut merasa sendu dan pedih...
Jiwaku demikian cepatnya menjadi letih,
Pandanganku berangsur menghitam dari yang tadinya putih....
Duduk sendiri aku tertegun,
Seolah tiada orang dapat membuatku bangun...
Aku terjebak dalam pikiranku yang ternyata begitu anggun,
Padahal tadinya aku berpikir kebahagiaanku bagai diambil penyamun...
Bagaikan merawat sepetak kecil kebun anggur,
Apakah tidak senang hati bila kebunmu subur?
Jangan biarkan sedih membuatmu hancur,
Apa baiknya kesedihan bila hanya membuatmu makin lebur?
Banyak hal di dunia membuat kita merasa terhukum,
Obatnya adalah pengampunan diri yang seolah seperti serum...
Banyak teman datang berempati bagai tanaman yang alum,
Kesedihan terasa bagai permen kecut yang terpaksa kita kulum...
Mulailah tersenyum pada dunia yang perlu banyak tawa,
Terimalah kejadian buruk yang terjadi dengan hati legawa...
Tak perlu malu melepaskan kesedihanmu bak sendawa,
Yang jelas buatlah hidupmu kembali bernyawa!
Menuju yang kau salahi kau harus berhadap!
Mintalah maaf dan kau akan mendekati ampunan yang kau harap!
Pengampunan diri akan membuatmu makin genap!
Biarkan rasa sakit itu jadi pengalaman penting yang larut mengendap!
Yang tadinya gelap upayakanlah jadi terang!
Jangan takut setelah jatuh kau bangkit menyerang!
Adalah wajar saat dihukum dan terluka kita mengerang...
Tapi bisa bangkit setelah kita terluka parah itulah sang pemenang!
katatantik: Kata-kata yang ditata dengan antik
Berikut ini adalah blog saya yang selanjutnya akan saya isi dengan banyak keisengan saya bermain-main dengan kata-kata...
Sejatinya saya juga sudah menulis sejumlah post berkaitan pada 360.yahoo.com :D
Tapi setelah timbang-menimbang, apalagi di tempat saya berpijak sekarang (di daratan Cina) akses blogger sudah tidak perlu akal-akalan proxy lagi... hehehe, yah akhirnya kembali lagi kemari ahahaha
Semoga mainan yang keliatannya sepele dan asal ini bisa memberikan kepuasan sendiri bagi pembacanya, termasuk saya pribadi...
Pernah saya melihat post saya yang sudah lama, dan membacanya kembali membuat saya terkesan, koq bisa saat itu saya memikirkan kata-kata sedemikian? Betapa aneh otak saya koq isengnya ke arah seperti itu... hahaha
Sejatinya saya juga sudah menulis sejumlah post berkaitan pada 360.yahoo.com :D
Tapi setelah timbang-menimbang, apalagi di tempat saya berpijak sekarang (di daratan Cina) akses blogger sudah tidak perlu akal-akalan proxy lagi... hehehe, yah akhirnya kembali lagi kemari ahahaha
Semoga mainan yang keliatannya sepele dan asal ini bisa memberikan kepuasan sendiri bagi pembacanya, termasuk saya pribadi...
Pernah saya melihat post saya yang sudah lama, dan membacanya kembali membuat saya terkesan, koq bisa saat itu saya memikirkan kata-kata sedemikian? Betapa aneh otak saya koq isengnya ke arah seperti itu... hahaha
Subscribe to:
Posts (Atom)